Kolintang (atau kulintang) berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Alat musik ini sudah dikenal sejak zaman dahulu kala, bahkan sebelum kedatangan bangsa Eropa di Nusantara. Nama "kolintang" berasal dari bunyi yang dihasilkan oleh alat musik ini: "tong" (nada rendah), "ting" (nada tinggi), dan "tang" (nada sedang).
Kolintang terdiri dari bilah-bilah kayu yang disusun secara horizontal di atas sebuah resonator. Kayu yang digunakan biasanya ringan dan memiliki resonansi suara yang baik, seperti kayu waru, kayu wenang, atau kayu telur.
Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul menggunakan stik khusus. Setiap bilah menghasilkan nada yang berbeda, dan kolintang biasanya dimainkan dalam kelompok dengan pembagian fungsi melodi, harmoni, dan bass.
Kolintang memiliki harga antara Rp3.000.000 hingga Rp25.000.000.
Dahulu, kolintang digunakan dalam upacara adat, penghormatan arwah leluhur, dan ritual keagamaan. Kini, kolintang lebih sering dimainkan dalam pertunjukan musik, baik tradisional maupun modern, bahkan diiringi dengan alat musik barat.Kolintang juga digunakan dalam pendidikan dan sebagai alat diplomasi budaya Indonesia di luar negeri.


Komentar
Posting Komentar