Langsung ke konten utama

CELLO


 

Asal dan Sejarah

Cello berasal dari Italia dan merupakan bagian dari keluarga alat gesek (string family) bersama biola, viola, dan kontrabas. Instrumen ini mulai populer pada awal abad ke-17, dikembangkan dari instrumen bass kuno seperti viola da gamba.
Komposer besar seperti Johann Sebastian Bach, Haydn, Beethoven, dan Dvořák menciptakan karya-karya penting untuk cello, menjadikannya sebagai instrumen vital dalam perkembangan musik klasik Eropa.

Cello dibanderol mulai Rp5.000.000 hingga Rp50.000.000.

Bentuk dan Cara Main

Cello memiliki badan kayu besar dan cekung, dengan:

  • Empat senar (C-G-D-A) yang disetel dalam interval kelima,

  • Leher dan fingerboard panjang,

  • Dan endpin (penyangga logam) yang disandarkan ke lantai saat dimainkan.

Pemain duduk dan melingkarkan cello di antara kedua kaki saat bermain.
Cara memainkannya:

  • Digunakan bow (busur) untuk menggesek senar, menghasilkan suara panjang dan ekspresif,

  • Bisa juga dengan teknik pizzicato (memetik senar dengan jari),

  • Tangan kiri menekan senar di fingerboard untuk menentukan tinggi nada.



Fungsi dan Peran

Cello memiliki rentang nada yang luas: dari nada bass yang dalam dan dramatis hingga nada tinggi yang lembut dan menyentuh. Suara cello sering digambarkan menyerupai suara manusia, membuatnya sangat emosional dan ekspresif.

Dalam musik klasik, cello digunakan dalam:

  • Orkestra simfoni (sebagai bagian dari bagian gesek),

  • Musik kamar (string quartet, trio),

  • Solo konser dengan orkestra atau piano,

  • Dan musik gereja serta liturgi.

Dalam musik modern, cello muncul dalam:

  • Musik film dan scoring (untuk membangun suasana emosional),

  • Musik pop dan akustik (misalnya oleh musisi seperti 2Cellos atau Apocalyptica),

  • Dan proyek eksperimen elektronik atau alternatif sebagai instrumen crossover yang unik.

sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Cello

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HERPA

Asal dan Sejarah Harpa adalah salah satu alat musik dawai tertua di dunia , dengan asal-usul yang dapat ditelusuri hingga 5000 tahun yang lalu di kawasan Mesir, Mesopotamia, dan Persia kuno . Bentuk awal harpa muncul dalam lukisan dinding kuil dan artefak kuno. Harpa kemudian berkembang di Eropa selama Abad Pertengahan dan Renaisans, menjadi alat musik penting di kalangan bangsawan dan gereja. Di Irlandia dan Skotlandia, harpa memiliki posisi budaya yang sangat kuat dan dianggap sebagai simbol nasional , terutama dalam bentuk harpa Celtic . Harpa konser modern (pedal harp) yang kita kenal sekarang mulai berkembang pada abad ke-19 di Prancis berkat inovasi mekanis dari Sébastien Érard , yang menciptakan sistem pedal untuk mengubah nada. Harpa biasanya dibanderol mulai Rp5.000.000 hingga Rp200.000.000, tergantung ukuran. Bentuk dan Cara Main Harpa adalah alat musik dawai petik vertikal dengan bentuk seperti segitiga melengkung, terdiri dari tiga bagian utama: Pilar (leher harpa...

BALAFON

  Asal dan Sejarah Balafon adalah alat musik tradisional perkusi yang berasal dari wilayah Afrika Barat, khususnya di negara-negara seperti Mali, Guinea, Burkina Faso, dan Senegal. Alat musik ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan menjadi bagian penting dalam tradisi musik serta kehidupan sosial masyarakat Afrika Barat. Balafon digunakan dalam berbagai upacara adat, festival, dan sebagai media bercerita melalui musik. Dalam masyarakat tradisional, balafon juga sering dimainkan oleh para griot (pendongeng dan musisi profesional) sebagai alat untuk mengiringi lagu dan cerita sejarah. Balafon memiliki harga kisaran Rp1.500.000 hingga Rp5.000.000. Bentuk dan Cara Main Balafon terdiri dari bilah-bilah kayu yang disusun secara horizontal menyerupai keyboard, dengan ukuran bilah berbeda-beda untuk menghasilkan berbagai nada. Ciri-ciri balafon: Bilah kayu biasanya terbuat dari kayu keras seperti kayu rosewood atau kayu keras lokal lainnya. Di bawah setiap bilah terdapat reso...

SAPE

  Asal dan Sejarah Sape’ adalah alat musik tradisional berdawai dari suku Dayak , terutama Dayak Kenyah dan Kayan di pedalaman Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara . Nama "sape’" dalam bahasa Dayak berarti "memetik" atau "alat petik". Awalnya, sape’ digunakan untuk mengiringi tarian tradisional dan ritual adat , seperti penyambutan tamu kehormatan, upacara panen, atau persembahan kepada roh leluhur. Dulu sape’ memiliki dua atau tiga senar dan dimainkan untuk musik instrumental ritual, terutama untuk menenangkan jiwa atau sebagai hiburan malam. Seiring waktu, sape’ mengalami perkembangan bentuk dan fungsi , dan kini dikenal luas di panggung nasional hingga internasional sebagai simbol kekayaan budaya Kalimantan. Sape dijual dengan harga Rp2.500.000 sampai Rp10.000.000. Bentuk dan Cara Main Sape’ berbentuk seperti gitar panjang berukir , terbuat dari kayu ringan (biasanya kayu adau atau kayu meranti) yang dipahat dari satu bongkahan kayu utuh. Ci...